Minggu, 09 April 2017

Earphone Kiriman Allah

 
 

Ceritanya, aku lagi pengen banget punya earphone. Waktu beli HP, gak dapet earphone. So, kalau nonton video atau putar MP3 pasti dengan volume paling kecil supaya gak berisik. Gak enak banget, kan.
 

Jumat, 07 April 2017

6 Hal Bermanfaat Ini Sulit Kamu Lakukan Sambil Naik Ojek Online



Sekarang lagi musimnya angkutan online. Sebagian besar kita pasti pernah ngerasain naik angkutan berbasis aplikasi, khususnya ojek. Biaya yang relatif murah -kalau dibandingin sama ojek pangkalan- dan waktu tempuh yang cepat -karena kalau pakai motor bisa nyelip-nyelip dan masuk gang- jadi daya tarik utama orang-orang memilih moda itu. Malah ada yang sampai bela-belain pinjam aplikasi temannya, karena dia gak punya aplikasi itu.

Tapi, tentu gak semua orang ketergantungan ojek online. Masih banyak juga yang milih angkutan umum standar, seperti Transjakarta, Metromini, Kopaja, atau angkot. Mereka mau berdesakan di dalam angkutan, terjebak macet, meski sesekali menggerutu.

Dan ternyata, ada hal-hal yang bisa dilakuin di angkutan umum, tapi sulit dilakukan di ojek online. Apa tuh?

7 Alasan Redmi Note 4 Bikin Mupeng



Redmi Note 4, yang jadi keluaran paling anyar punya Xiaomi, adalah salah satu ponsel yang layak masuk daftar teratas ponsel keren dan bikin mupeng. Baru diluncurkan kemarin (5/4) di event Mi Fans Festival, kehadiran gawai tersebut menarik perhatian para pengguna Xiaomi, termasuk saya. Setidaknya, ada 7 poin penting yang bikin saya naksir abis sama Redmi Note 4. Mau tahu?

Kamis, 06 April 2017

Serunya Mi Fans Festival 2017



Dalam rangka meluncurkan 2 produk barunya, Xiaomi Indonesia membuat event untuk komunitas Mi Fans -para pengguna Xiaomi- bertajuk Mi Fans Festival 2017 yang digelar di The Hall, Kota Kasablanka, Jakarta. Ajang ini sekaligus menjadi pertemuan akbar antar Mi Fans yang ada di Indonesia.

Rabu, 05 April 2017

Jadwal Baru Commuterline April 2017

Temen-temen yang biasa naek KRL atau Commuter Line, ada jadwal baru nih. Jadwal ini berlaku mulai tanggal 1 April 2017. Jadi, di awal bulan ini, KRL memberlakukan kebijakan perubahan jadwal, dengan tujuan supaya perjalanan pake KRL jadi lebih nyaman dan cepat.

Rabu, 22 Maret 2017

Ummi: Tegar Menerjang Badai


pict by Uni Novia Syahidah

Judul di atas seketika terlintas dalam pikiran, sewaktu Mbak Meutia Geumala menceritakan tentang "nasib" Ummi sebagai media cetak, pada peserta Program Edukasi Muslimah, yang diadakan oleh Blogger Muslimah.

Zaman yang serba digital sekarang ini telah mengubah perilaku membaca orang-orang. Kalau sepuluh tahun lalu kita masih melihat orang-orang menenteng majalah, koran, atau buku, sekarang yang kita lihat orang khusyuk dengan smartphone-nya. Apa yang tidak ada dalam kotak berukuran 5 inchi ini? Artikel-artikel menarik, berita terbaru, bahkan buku-buku pun juga ada di situ. Imbasnya, pengusaha-pengusaha media cetak terpaksa menyudahi bisnisnya. Pilihannya cuma dua: mengalihkan medianya dalam bentuk daring, atau mengubah core bisnisnya sekaligus, alias memasukkan medianya dalam kotak sejarah.

Jumat, 17 Maret 2017

Kenapa Saya Menulis





Kenapa?

Tema menulis kolaborasi dari Blogger Muslimah Sisterhood putaran pertama, yang diberikan oleh Mbak Arina Mabruroh, membuat saya merenungi kembali akan jalan yang saya pilih. Kenapa menulis? Kenapa bukan bermusik? Kenapa melenceng dari cita-cita masa kecil sebagai Arkeolog?

Kamis, 16 Maret 2017

Alamat Palsu: Sebuah Drama Dari Muscab FLP Jakarta

Sebagai anggota FLP Jakarta, hal yang paling saya inginkan dari kegiatan Musyawarah Cabang adalah bebas drama. Bebas dalam artian kegiatan benar-benar terbebas dari drama apapun yang mengganggu kelancaran, bukan bermakna siapapun bebas main drama di Muscab. Berkali-kali saya mengikuti Muscab FLP Jakarta, kegiatan itu nyaris selalu berjalan dengan drama; mulai dari drama munculnya orang-orang omdo, penolakan kandidat, pemaksaan KPU, dan lain-lainnya yang tentu sangat menguras emosi.


Muscab 2017 ini, KPU berusaha meminimalisir aneka drama tersebut, terutama drama penolakan namanya dimasukkan menjadi calon ketua FLP Jakarta. Karena itu, KPU meniadakan pemilihan awal melalui e-mail, dan semua mekanisme pemilihan berlangsung di lokasi Muscab. Kandidat yang bisa dipilih adalah yang memenuhi syarat dan hadir pada saat Muscab dilaksanakan.

Dan benar, Muscab berjalan lancar, tanpa ada drama apapun, setidaknya sampai ketok palu LPJ Ketua FLP Jakarta periode 2015-2017 diterima.

Lalu drama itupun dimulai. Sesaat menjelang penyerahan LPJ dari Ketua FLP Jakarta periode 2015-2017 ke ketua KPU, orang-orang di sisi kiri meja KPU berisik, kasak-kusuk, minta penyerahan ditunda. Kesal? Sudah pasti. Karena pasti ada drama. Tanpa adanya drama, buat apa penyerahan ditunda? Ketua FLP Jakarta 2015-2017 dan Ketua KPU sama-sama sudah ada di tempat. Tapi, siapa yang bikin drama itu?

Dialah orang yang tak pernah diduga akan membuat drama.

Alkisah, menjelang Muscab, Sekretaris Panitia sibuk kirim undangan melalui surel. FLP Wilayah Jakarta Raya dan cabang-cabang yang bernaung di bawahnya termasuk prioritas utama pengiriman undangan. FLP Wilayah diutamakan karena kehadiran perwakilan mereka adalah syarat sahnya Muscab menurut AD/ART FLP.

Sebelum memulai proses kirim undangan, Sekretaris Panitia menanyakan alamat e-mail undangan-undangan itu di grup panitia. Barangkali, ada panitia lain yang tahu, jadi tidak minta ke yang bersangkutan lagi. Kan lucu juga, mau kirim undangan tapi masih tanya alamat. Sayang, yang menjawab pertanyaan itu cuma sedikit.

Hingga tiba saatnya Muscab. Ada Mbak Ani di situ. Mbak Ani adalah pengurus wilayah FLP Jakarta Raya, pernah jadi anggota FLP Jakarta, dan tergabung dengan panitia Muscab sebagai sie konsumsi. Yah, sudah ada perwakilan dari FLP Wilayah. Muscab sudah bisa dimulai.

Tepat sebelum penyerahan LPJ dari Ketua FLP Jakarta 2015-2017 ke Ketua KPU, sidang terpaksa diskors. Ada yang marah-marah, merasa FLP Jakarta menggelar Muscab tanpa sepengetahuannya, karena dia merasa tidak dikirimi e-mail. Dia bilang, Muscab tidak sah, dan harus diagendakan ulang. Mbak Ani sepakat dengan hal itu. Katanya, Muscab FLP Depok digelar ulang, meski yang hadir jauh lebih sedikit.

Ucapan itu keluar setelah panitia dan KPU protes dengan wacana penjadwalan ulang. Tentu saja hal itu beralasan. Mengumpulkan lebih dari 30 orang anggota FLP Jakarta bukan perkara mudah. Masing-masing mereka pun mengorbankan banyak hal untuk bisa datang ke Muscab. Sayang rasanya kalau pengorbanan mereka sia-sia hanya demi satu orang. Lagipula, di tempat Muscab sudah ada Mbak Ani, yang pengurus FLP Wilayah, sudah memenuhi syarat yang diundang-undangkan.

Mbak Ani lalu berdalih, kalau dia tidak diutus oleh Ketua Wilayah untuk menjadi perwakilan di Muscab.

Saya? Melongo! Kenapa baru bilang? Tadi, waktu ada peserta tanya tentang kehadiran pengurus FLP Wilayah, dan kami sebut namanya, dia tidak protes. Dia ada di situ, di tempat Muscab.

Pertanyaan langsung tertuju ke Sekretaris Panitia yang mengirimkan surat. Dia bilang, surat sudah dikirim ke e-mail FLP Wilayah. Dia juga bisa menunjukkan surat yang sudah dia kirim. Dan Mbak Ani bilang, alamat e-mail FLP Wilayah sudah ganti sejak setahun lalu. Kali ini dia menyalahkan Pak Arya, Ketua FLP Jakarta 2015-2017, karena katanya alamat e-mail yang baru sudah dipublikasikan di grup ketua-ketua FLP Cabang, yang anggotanya cuma lima orang.

Ingin ketok rasanya. Pak Arya mana ngeuh dengan postingan di grup ketua-ketua FLP Cabang? Apalagi setahun lalu. Pekerjaan kantornya superhectic. Saya tahu karena pernah ada di kantor yang sama. Lalu, saat kemarin Sekretaris Panitia menanyakan alamat e-mail untuk undangan, kenapa tidak dijawab?

Dan sang Ketua masih dengan dramanya, keukeuh tidak sah dan harus diulang, meskipun di tempat itu sudah ada pengurus FLP Wilayah.

Lalu KPU, beberapa orang panitia, senior FLP Jakarta, dan seorang pengurus FLP Pusat menggelar rapat dadakan. Tujuan awalnya meminta saran dari pengurus FLP Pusat. Terungkap saat itu kalau Ketua FLP Wilayah sebenarnya sudah tahu kalau FLP Jakarta akan Muscab, karena ada pembicaraan secara lisan. Pak Arya masih berusaha melobi si Ketua Wilayah. Tapi, dia tetap dengan pendiriannya.

Kami di ruangan itu lalu berdiskusi. Kata seorang pengurus FLP Pusat itu, kalau urusan melanggar peraturan, banyak peraturan yang sudah dilanggar. Jangan terlalu saklek karena FLP bukan organisasi yang sangat ketat dengan peraturan. Seorang senior FLP Jakarta juga menambahi, kalau FLP masih bertahan hingga saat ini karena peraturannya yang longgar. Semua pengurus adalah relawan, tidak berbayar.

Diputuskan oleh kesepakatan di ruangan itu, kalau Muscab akan dilanjutkan dan diselesaikan pada hari itu. Jika Ketua Wilayah tidak mau mengakui hasil Muscab itu, maka penyelesaiannya akan dibawa ke pengurus pusat. Hampir semua yang ada di situ mau bertanggungjawab dengan keputusan yang dibuat. 

Setelah Sekretaris Panitia mengirimkan ulang undangan ke e-mail yang benar -dan itupun butuh waktu cukup lama- Ketua Wilayah sedikit melunak. Dia akan datang setelah Ashar, tapi proses Muscab harus diulang dari awal. Permintaan untuk mendelegasikan kepada Mbak Ani, pengurus wilayah yang sudah ada di situ, tidak mendapat respon. Dia ingin datang sendiri! Lalu, kami memutuskan kalau Muscab tetap berjalan dan tidak diulang.
Dalam diskusi dengan beberapa orang, kami menyayangkan sikap saklek seorang ketua. Jika dia memilih datang berbekal undangan lisan dari seorang senior, lalu baru menanyakan undangan yang tidak dia terima itu, pasti urusan tak akan ribet.

Lalu, saya berpikir lagi, apa dia tidak percaya pada pengurus lain sampai harus datang sendiri dan memastikan semua proses diulang? ART FLP Pasal 20 poin 1 hanya mensyaratkan kehadiran utusan FLP Wilayah. Utusan, bukan harus ketuanya. Entah dari mana dia dapat fatwa kalau Muscab tidak sah tanpa kehadirannya.

Lagi, ada satu poin dari pasal 20 ART itu yang tidak jelas, yaitu syarat anggota aktif. Dengan pembatasan yang kami buat, kami beranggapan, 30 orang lebih yang hadir sudah memenuhi kuorum minimal, yaitu separuh jumlah total anggota aktif ditambah satu orang. Jika hanya karena dla seorang lalu Muscab harus diulang dan pesertanya kurang, bukankah jadi melanggar poin yang merupakan "syarat sah"? Sementara, kehadiran Ketua Wilayah bukan "syarat sah", utusannya pun cukup. Jadi, kalau kita berbicara AD/ART, mana yang jelas-jelas melanggar "syarat sah"?

Muscab kembali berlangsung dengan agenda semula. Pemilihan Ketua FLP Jakarta 2017-2019 berlangsung. Menjelang Ashar, datanglah Sang Ketua Wilayah, dan langsung disambut oleh senior FLP Jakarta. Entah apa yang mereka bicarakan di luar. Yang jelas, setelah itu peserta Muscab istirahat dan salat Ashar.

Setelah salat Ashar, persidangan belum dilanjutkan. Menunggu senior FLP Jakarta, yang melobi sang Ketua Wilayah, hadir dan membawa keputusan tentang apa yang harus kami lakukan; apakah akan mengulang dari awal atau melanjutkan. Senior itu lalu kembali ke ruang sidang, dan membawa keputusan kalau persidangan dilanjutkan tanpa mengulang dari awal. 

Muscab pun kembali dilanjutkan dengan agenda pelantikan Ketua FLP Jakarta periode 2017-2019. Entah bagaimana caranya Mas Senior ini melobi. Tapi, yang jelas, Ketua Wilayah sudah tidak lagi se-keukeuh tadi. Meskipun dalam pidatonya dia masih merasa tidak dikirimi undangan, yang penting tidak ada penjadwalan ulang dan tidak harus mengulang Muscab dari awal.

Menutup postingan ini, saya teringat oleh sebuah doa yang dibacakan oleh Mas Sokat menjelang presentasi program kerjanya pada Muscab 2011. Semoga kita semua dapat mengambil ibroh dari doa tersebut.

"Ya Allah, jadikanlah aku orang banyak bersyukur, dan jadikanlah aku banyak bersabar, dan jadikanlah aku kecil di mataku dan besar di mata manusia." (HR. Al-Bazaar)

*no pict ah
*gaya nulis gw ngapa jadi kayak si Pisang? 😒

Jumat, 03 Februari 2017

Memulai Menulis




"Cha, ente kalo nulis pake pulpen apa langsung di komputer?"
"Ide sih sebenernya banyak, tapi gak tau apa dulu yang mau ditulis."
"Sebenernya pengen. Tapi maleees. Males banget, sumpah."
"Eonnie*, aku pengen buat FF tapi belum pernah nulis."
"Nana sedang tidak punya ide, Eonnieee!"

Pertanyaan-pertanyaan itu sering banget muncul di chatroom aku. Entah aku sebagai anggota FLP, "penjaga gawang" Banana Writing Club, atau sebagai readers setianya Si Pisang, yang sering banget nanyain FF barunya.

Dari curhatan-curhatan itu, seenggaknya aku bisa tarik kesimpulan kalau memulai nulis itu tak semudah menekan tuts keyboard atau menggerakkan pulpen. 

Tapi, tak ada masalah tanpa solusi, karena mereka diciptakan sepaket. Begitu juga dengan menulis. Yakinlah, di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Udah, gitu aja.

Senin, 30 Januari 2017

Datang Pas Butuh


Pernah nggak, punya temen yang nggak pernah teleponan, Whatsappan, komen-komenan, tau-tau dateng buat ngundang?

Ngeselin, kan!

Tapi, ada lagi yang ngeselin.